Lagi-Lagi Uang

Bagi semua pengantin baru, apalagi pasangan muda, aku rasa honeymoon is a must. uanglogamSepertinya kalau bukan karena alasan yang mendesak misalnya jadwal kontrak kerja yang padat, tak sepasang pun pengantin baru ingin menunda atau bahkan melewatkan bulan madu mereka.
Aku dan Andri, suamiku, pun merasa demikian. Walaupun tidak berbudget besar, kami tetap mengupayakan terlaksananya bulan madu kami ke Singapura. Segala persiapan mulai dari membuat paspor, memesan tiket dan penginapan, memilih obyek-obyek wisata yang akan dikunjungi, hingga menyusun koper kami lakoni dengan penuh semangat sebab begitu lewat hari H, kami langsung bertolak.
Hmm… sudah kubayangkan pasti seru rasanya melancong ke tempat baru berdua saja dengan orang yang kita sayangi.

***

Pipi kiri dan kanan ini masih terasa pegal karena kebanyakan cipika cipiki saat menyalami para tamu yang hadir di perhelatan nikah kami sehari sebelumnya. Namun, girangnya hati membuat tawa canda dan senyum tak henti-hentinya lepas untuk satu sama lain saat pesawat lepas landas meninggalkan bandara Soekarno-Hatta.
Lalu, apakah benar honeymoon itu semanis madu? Seheboh persiapannya? Tak terlupakan sepanjang masa? Ah, itu omong kosong! Lho?
Sungguh, mungkin tak akan ada orang percaya. Di masa honeymoon yang kata orang enak dan berkesan, aku dan Andri bertengkar! Meski tidak sampai berteriak-teriak, ini yang paling pahit dalam hubungan kami. Andri bahkan mengutarakannya saat kami menanti pesta kembang api di River Hong Bao, yang sebelumnya kubayangkan bakal romantis sekali.
Kecewa sudah pasti. Banget, malah. Siapa sih yang ingin impiannya dirusak. Dan penyebab dari semua itu tak lain dan tak bukan adalah uang. Andri merasa ‘kaget’, bahkan dibuat ‘ngeri’ dengan pengeluaranku yang menurutnya boros. Padahal, barang-barang yang kubeli itu kebanyakan titipan ortu. Aku bahkan tak sempat membelikan oleh-oleh untuk teman-teman dan saudara-saudaraku yang lainnya.
Dari masalah boros tersebut, dia jadi sangsi mempercayakan pengelolaan uang padaku. Dia juga takut aku membelanjakan uang bersama untuk hal-hal yang menurutnya sekunder. Menurutnya, aku harus menyusun prioritas dalam berkeluarga. Menghabiskan 90.000 rupiah untuk eye shadow merek cukup ternama menurutnya hanya membuang-buang uang, sementara di pasar bisa diperoleh merek lain dengan harga jauh lebih murah. Hello?
Aku tak menampik jika suamiku memang orang yang sederhana. Dia baru mengganti barang jika sudah rusak atau menurutnya tidak layak pakai lagi. Tapi wanita mana yang tak butuh aksesoris penunjang penampilannya? Lagipula, barang-barang bermerek yang kupakai sekarang, sebagian besar diberi ortu. Aku bukan penggila merek, hanya saja terkadang baju yang jatuhnya lebih bagus itu kebetulan bermerek.
Toh, ada juga kaos-kaos milikku yang harganya tak lebih dari 20.000 rupiah per potong. Yang penting bagus dan nyaman dipakai. Kosmetik yang cukup mahal pun, aku beli dengan hasil keringat sendiri. Kecuali pembersih wajah, kebanyakan habis pakai lebih dari setahun. Sebagai salah seorang pembicara di perusahaan, aku rasa wajar bila penampilan perlu sedikit dipoles.
Sejak zamannya masih ditunjang ortu, aku telah terbiasa mandiri untuk pos-pos pengeluaran penunjang penampilan. Aku juga penganut paham yang mengatakan bahwa dengan cinta, semua bisa teratasi. Asal ada cinta, hidup susah pun jadi senang. Ah, naif sekali rasanya sekarang.
Memang logis kalau dia bilang kebutuhan menabung untuk membeli rumah, biaya pendidikan anak kelak, dan hal-hal lain menyangkut keluarga harus diprioritaskan. Tanpa disinggung olehnya pun, aku sudah tahu, mengerti, dan berniat melakukannya. Begitu dini dia memvonisku gila belanja, padahal belum sepeser pun uangnya kuhabiskan untuk berfoya-foya membeli baju, tas atau kosmetik pribadi.
Aku dan Andri sangat jarang bertengkar. Jadi wajar jika tak pernah terlintas dalam pikiranku, di masa honeymoon pun pertengkaran bisa terjadi. Serasa ada benda tajam yang menikam ulu hatiku. Aku merasa terusik oleh kata-katanya, ketidakpercayaannya. Kok tega-teganya ya, dia merusak bulan madu kami gara-gara uang. Ironisnya, kami baru saja melewati Fountain of Wealth… di Suntec City. Bahkan make a wish segala di sana.

***

Mungkin karena kekecewaan yang berlarut, aku jatuh sakit. Mataku bengkak dan perih karena terlalu banyak menangis. Parahnya lagi, badanku demam tinggi. Andri yang awalnya masih bersikap dingin jadi panik saat keesokan harinya, aku tak kunjung membaik.
Mataku merah sekali walaupun lensa kontak telah kulepas. Salahku juga tetap memakai lensa kontak di kala tidur, dan bodohnya aku lupa membawa kacamata cadangan. Di saat aku merasa sedih, sakit, dan lonely itulah, Andri begitu telaten mengurusku. Merasa berdosa kali, pikirku sinis. Dia bahkan membawaku ke rumah sakit, khawatir terjadi sesuatu pada mataku. Padahal ongkos berobat di Singapura kan mahal.
Kami pulang lebih awal dari rencana semula. Repot, sudah pasti. Plus, uang deras mengalir seperti air keran. Dari membiayai rumah sakit, membeli kacamata, mengganti jadwal tiket, semuanya butuh dana ekstra. Sekembalinya ke tanah air, aku benci sekali bila ada yang menanyakan honeymoon kami. Ada yang menyalahkan karena kami terlalu cepat berangkat, bukannya beristirahat dulu sehabis hari H. Ada juga yang menyayangkan sekaligus menghibur bahwa masih ada kesempatan di lain waktu. Aku sih tidak terlalu berharap.
Namun, tak seorangpun tahu alasan sebenarnya. Bahwa telah pertengkaran dengan uang sebagai pemicunya. Memalukan. Dan aku jadi agak pesimis dengan bahtera perkawinan kami selanjutnya.

***

Dua tahun berlalu. Terkadang, aku masih sakit hati jika teringat honeymoon perdana kami yang tidak mengenakkan. Tapi, aku memaafkan suamiku. Andri pun nampaknya sudah melupakan hal ini. Toh, aku tidak pernah seenaknya membelanjakan uang bersama. Ada skala prioritas dan penghematan juga sehingga kami selalu dapat menabung. Selain itu, Andri banyak memperbaiki sikapnya sejak aku melahirkan putri pertama kami. Mungkin trauma juga melihatku bersusah payah melahirkan dengan banyak darah.
Menurutku, dia sekarang lebih sabar dan penyayang. Walaupun tidak selalu ikut begadang karena harus bekerja esoknya pagi-pagi sekali, dia cukup perhatian dengan dukungan morilnya di tengah kelelahan fisik yang aku hadapi di bulan-bulan awal mengasuh bayi kami.
Kejadian itu juga telah mengubah pola pikirku. Wanita perlu bekerja, full-time part-time tidak masalah. Tidak bisa seratus prosen bergantung pada suami. Kendati suami tetap menafkahi, untuk kesenangan pribadi, aku lebih suka merogoh kocekku sendiri. Jadi nggak perlu setiap saat bertanya dan meminta pada suami. Kalau barang yang kita minta dikasih sih tidak masalah, tapi kalau harus berargumentasi dulu itu yang bikin malas. Biarpun akhirnya diberi juga kan, rasanya sudah tidak sama lagi.
Aku pun mulai menata kembali perasaanku. Membangun penilaian positif setelah sebelumnya ternoda oleh kenangan pahit. Mencoba mensyukuri apa yang kumiliki sekarang. Andri suami yang rajin, bertanggung jawab, dan setia. Meski tergolong ganteng, dia tidak hobi tebar pesona. Keluarga mertuaku pun welcome sekali. Belum pernah terjadi konflik mertua-menantu pasca pernikahan seperti yang sempat menghantui pikiranku. Di rumah, aku berusaha menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik. Di tempat kerja, aku tetap bisa profesional.
Sampai suatu ketika, Andri mempertanyakan sebuah buku anak-anak yang baru kubeli untuk Kezia, putri kecil kami. Satu buku kecil sebesar telapak tangan orang dewasa bergambar harganya 20.000 rupiah. Menurutnya itu kemahalan. Aduh! Aku jadi geram.
Aku kira wajar harganya segitu. Buku ini bukan buku biasa, melainkan terbuat dari karton tebal yang antisobek dan tahan air. Yang berukuran lebih besar, harganya lebih mahal lagi. Buntut-buntutnya, aku beli yang mini. Eh, masih kena omel juga.
“Kalau kemahalan, mbok ya dikliping sendiri saja lalu dilem di karton tebal dipotong, dijadikan buku, dan disampul!” sahutku kesal.
Bayangkan, sejak Kezia lahir, Andri hanya pernah sekali membelikan mainan murah. Sampai saat ini, mainan-mainan Kezia semuanya hibah dari sepupu-sepupu dan hadiah dari ortu. Jauh di lubuk hatiku, aku kecewa karena Andri yang notabene bapaknya tidak pernah memperhatikan hal yang satu ini.
Di lain pihak, kakek dan neneknya selalu membelikan oleh-oleh baju, mainan, bahkan susu formula dan pampers. Miris rasanya. Bukankah bapak yang hubungan darahnya lebih dekat dengan anaknya sendiri seharusnya yang lebih memperhatikan? Lebih berperan dalam tumbuh kembang anak? Memangnya anak cuma perlu dikasih makan? Dari buku-buku dan mainan-mainannya kan, anak bisa belajar banyak hal. Mengenal warna, mengenal berbagai jenis binatang. Siapa tahu malah dapat memacunya untuk lebih cepat berbicara dan bertambah pandai. Kekesalanku pun memuncak ke ubun-ubun.
“Kamu pikir, suami mencari uang untuk kesenangan pribadi? Apa gunanya aku capek-capek bekerja dari pagi sampai malam membanting tulang?” katanya berdalih saat aku mempertanyakan rasa sayangnya pada keluarga.
“Kalau begitu, kan tidak ada salahnya membelikan mainan anak yang berkualitas,” sahutku.
“Aku bukannya tidak setuju kamu membelikan mobil-mobilan, lego, dan sebagainya. Hanya saja, anak kita belum cukup umur. Percuma kamu membelikannya sekarang. Nanti malah hilang atau rusak saja.”
“Tapi terbukti kan, Kezia sekarang jadi lebih pintar. Dia bisa mengenali binatang-binatang yang ada di buku ini.”
“Kamu kan bisa mencari yang lebih murah. Nggak harus yang kertasnya tebal anti apa katamu? Tahan air dan antisobek?”
Aku menghela napas.
“Katanya cinta, kok… gara-gara uang kita bertengkar terus. Katanya sayang, kok… untuk urusan uang kamu tidak mau mengalah. Padahal aku nggak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh.” kataku meninggi.
Karena gemas, kutinggalkan Andri begitu saja. Belum sempat melangkah keluar pintu, aku mendengar suara kertas koran yang sedang dibaca Andri robek ditarik-tarik oleh Kezia. Wah, kebetulan sekali. Rasakan.

***

Malam itu, pikiranku mengembara. Aku merenung sendiri di tengah sunyi dan sepi yang kurasakan. Pulau-pulau sisa noda tangisan di bantalku mungkin sudah bertambah lagi. Tatkala mencoba memejamkan mata, aku merasakan kepalaku dibelai. Aih, jujur hati ini rasanya bagai diguyur air sejuk.
Setelah tiga tahun mengarungi bahtera pernikahan kami, aku pikir kendala yang ada seharusnya bukan makin memisahkan melainkan menyatukan kami dan membuat masing-masing pihak lebih mengerti satu sama lain. Memang ada kalanya sifat sulit diubah. Atas nama cinta, saat itulah pengertian kita dituntut.
Anyway, setiap hubungan cinta punya warna tersendiri. Aku pernah mendengar cerita dari seorang sobat ibuku, yang suaminya setiap hari pulang larut malam sekitar jam satu-dua dini hari untuk berkumpul dengan teman-temannya bahkan ada kalanya mabuk. Istrinya sudah kenyang menangis di tahun-tahun awal pernikahan mereka. Sekarang dia sudah dapat menerima dan easy going saja. Salut aku, di tengah keadaannya yang seperti itu dia masih tetap mencintai suaminya.
Andri jauh lebih baik dari suaminya itu. Meski ketat soal uang, masih banyak sifat-sifatnya yang positif. Dia termasuk kepala rumah tangga yang baik. Mungkin, di saat kehidupan kami sudah lebih mapan, dia bakal perlahan-lahan berubah. Satu hal lagi, aku mencoba mengingatkan diriku sendiri bahwa dia adalah jodoh terbaik dari Tuhan.
Sudahlah, memang nobody’s perfect. Aku pun terlelap di tengah belaian hangat suamiku. Esok pagi, aku pasti bisa tersenyum kembali. ©

Karen Angela | Memulai debutnya sebagai pengarang di tahun 1996 sampai sekarang, penulis cantik yang bernama asli Josephine Petrina ini lahir dan bertumbuh di Palembang. Ia merupakan penulis senior dan telah mempublikasikan karyanya di berbagai media cetak nasional seperti Femina, Anita Cemerlang, Kawanku, Gadis, Hai dan lain-lain. Ia kini menetap di Jakarta bersama sang Suami tercinta, drg. Adrian, yang mengikuti pendidikan spesialis orto (kawat gigi) di Universitas Indonesia, dan membuka praktek dokter gigi di Muara Karang. Antologi cerpennya, Lagi-Lagi Uang pernah dimuat di majalah Femina edisi 49 November 2007, Pacarku Nggak Romantis di Kawanku edisi Mei 2008, dan Masih Ada Hari Esok di Majalah BIP edisi Agustus 2008.

Pacarku Nggak Romantis
By • Karen Angela
Jam istirahat belajar tiba. Setelah memesan es cendol, Winda duduk di bangku pojok kantin. Diletakkannya setumpuk fotokopian Fisika yang bakal diujikan siang itu. Dahinya sedikit berkerut. Gawat! Bahan belum selesai dipelajarinya. Pengennya sih pasrah, tapi masa dia nyerah gitu aja sebelum tes. Sayang sesaat kemudian, Nina mengusik perhatiannya dengan memamerkan sesuatu di tangannya.
“Astaga, Nin! Bagus banget liontinnya?” seru Winda heboh. Matanya seketika membesar.
“Aduh, jangan histeris gitu dong. Anak-anak jadi pada ngeliatin kita nih,” balas Nina risih.
Sedikit tersentak, Winda refleks menutup mulutnya. Dia sampe nggak sadar volume suaranya tadi sudah melebihi batas.
“Ini dari Alvin,” cetus Nina lagi. Dengan santai dia menyendokkan sesuap nasi soto ke mulutnya. Ada nada bangga dalam suaranya. Apa lagi saat diliriknya Winda yang segera meminta dan menimang-nimang liontin berinisial A&N itu untuk diteliti.
“Tapi kamu nggak ulang tahun kan? Lagipula beberapa hari yang lalu dia barusan ngasih kamu boneka beruang yang besar banget,” tanya Winda heran.
“Ah, kamu!” Nina tertawa. “Tahu sendiri sifat Alvin itu kan? Dia rajin memberikan sesuatu kapan pun dia mau.”
“Pantes!” Winda balas memandang Nina dengan tatapan iri. “Kamu beruntung banget, Nin.”
Alvin dan Nina belum lama jadian. Perfect couple, begitu kata orang kebanyakan. Yang cowok cakep, sedangkan yang cewek cantik. Dan sepertinya, Alvin juga tahu banget bagaimana memperlakukan seorang cewek bak putri raja, bikin sirik banyak orang yang melihatnya.
Coba kalo Tomi seperti Alvin, sambungnya dalam hati. Udah keren, pinter, murah hati, romantis pula. Kurang apa lagi coba.
Ugh, Winda menghela napas dalam-dalam. Ada yang mengetuk-ngetuk perasaannya. Entah sudah yang keberapa kali dalam dua minggu terakhir, dia jadi cenderung membanding-bandingkan Tomi dengan Alvin.
Pertemuan hati antara Winda dan Tomi sebenernya sudah berlangsung setahun lebih. Awalnya mereka cuma berteman baik. Karena sering hangout bareng di sekolah, orang-orang di sekitar mulai meledek mereka pacaran. Dimulai dari temen-temen sekelas, kemudian menyebar hampir tak terkecuali ke seluruh penghuni sekolah. Bahkan Pak Udin, satpam sekolah pun tahu gosip mereka pacaran. Buktinya kalo Winda datang terlambat, Pak Udin suka nyeletukin.
Winda sebenernya tengsin diledekin terus, tapi lambat laun rasa sebelnya hilang. Dia bahkan mulai merasa ada sesuatu yang lain. Sampai-sampai menjelang mau tidur, rasanya sulit banget buat mejemin mata gara-gara mikirin doi melulu. Padahal Tomi nggak cakep-cakep amat.
Bisa jadi Winda kesengsem sama sikap pemalu cowok itu yang berbeda dengan kebanyakan fans-fansnya yang lain. Juga kesabarannya ngajarin Winda pelajaran yang nggak dia mengerti, terutama Fisika yang bikin mati kutu. Sebagai top student, tidak sulit baginya untuk membantu Winda. Terbukti sejak Tomi ikut mengajari, nilai-nilai Winda yang tadinya amburadul pun terdongkrak dengan sukses.
Dan rasa suka yang terselip di hatinya itu nggak bertepuk sebelah tangan. Suatu hari Tomi sungguh-sungguh meminta Winda untuk jadi pacarnya. Bagi Tomi, Winda adalah first love -nya walaupun bagi Winda, bukan. Mungkin gara-gara itulah, Winda mengganggap Tomi terkadang nggak tahu gimana caranya memperlakukan cewek. Sikapnya memang baik. Cuma kok nggak ada tuh, berjuta rasa jatuh cinta yang bikin panas dingin. Yah, wajar kan namanya orang pacaran punya angan-angan kalo pasangannya romantis. Bukannya datar-datar aja kayak sekarang.
Winda menelan rasa kecewanya. Gimana caranya biar kamu ngerti, Tom?

***

Byur! Kepala Winda serasa diguyur seember air sejuk. Boring dan kantuk yang tadi menyerang mendadak pupus. Begitu Pak Harris menghilang di balik pintu, Winda langsung melesat keluar kelas. Bebas merdeka.
Matahari bersinar menyilaukan. Winda berjalan cepat, menyelinap di antara hiruk pikuk orang yang berbicara sambil berlalu lalang. Setengah tergopoh Tomi menyeret langkahnya di samping Winda.
“Kamu jalannya cepet banget sih, Win. Kayak dikejer setan.” Cowok itu menarik napas sambil terengah. Ranselnya hampir melorot.
“Ada apa sih?” balas Winda galak. Dengan perasaan dongkol, dia menghentikan langkahnya.
“Win, kamu nggak apa-apa?” tanya Tomi lagi. Nggak biasanya Winda ketus begini.
“Aku baik-baik aja. Terima kasih atas perhatiannya.” Winda tersenyum sumbang. Tangannya menyeka dua butir keringat di keningnya, lalu dia mengipasi wajahnya sebentar.
“Tapi kenapa cemberut aja? Feeling-ku mengatakan, kamu sedang menghindari aku.”
“Iya, itu karena kamu nggak romantis,” suara Winda meninggi.
“Lho, kok bisa?”
Winda terdiam sebentar. Haruskah dia mengutarakannya?
“Kamu nggak pernah ngasih aku bunga,” desis Winda akhirnya dengan bibir ditekuk.
Dengan senyum simpul, Tomi menatap wajah Winda. Dia ngerti, cewek ini lagi ngambek rupanya.
“Aku nggak tahu mau beli bunga di mana, Win. Kalau memang suka, kamu kan bisa kasih tahu kalo papasan dengan penjual bunga saat kita jalan bareng. Nanti aku beliin.”
Winda mendelik. Tomi nggak nangkep maksudnya. Dia mengharapkan sekali-sekali cowok itu bakal kasih kejutan yang romantis, gitu lho.
“Kita juga jarang banget gandengan tangan kalo lagi jalan bareng,” sambung Winda.
“Kan kamu bisa duluan menggandeng tanganku kalo mau. Ada lagi?”
Ada! batin Winda gondok setengah mati. Tapi dia malu untuk mengutarakannya. Masakan
sudah pacaran setahun begini, dia belum pernah di-kiss. Bukan. Bukan kiss yang sering kamu lihat di film-film Barat yang sampe disensor gitu. Cium pipi aja gak pernah! Winda jadi ragu, sebenernya mereka pacaran apa bukan sih?
“Sikapmu aneh! Kalo memang pengen sesuatu, ngomong dong yang jelas. Masa kamu mengharapkan aku membaca pikiranmu?” balas Tomi melihat Winda diam membisu.
“Apa kamu nggak pernah merasa kurang perhatian? Lihat aja, berapa kali kita pulang sekolah sama-sama? Berapa kali kamu ngebatalin kencan kita gara-gara….” Tiba-tiba Winda menghentikan ucapannya.
“Gara-gara apa?”
Gara-gara buku, lanjut Winda dalam hati. Dia jadi cemburu sama buku, nih. Tomi kerjaannya belajar melulu. Kalo udah ketemu buku bagus aja, bisa buyar deh semua rencana. Dasar cowok nerd!
“Pokoknya kamu nggak romantis. Aku nggak suka cowok yang nggak romantis!”

***

Senin sore. Jam menunjukkan pukul lima.
Winda lagi duduk-duduk di beranda rumahnya. Cuaca mendung dengan awan gelap yang berarak mengumpul kian dekat. Sepertinya hujan akan segera turun.
Apa yang sedang dilakukan Tomi sekarang? Sudah seminggu sejak pertengkaran di halte tempo hari, Winda nyuekin dia. Sengaja bikin jarak. Kalo cowok itu datang, Winda buru-buru cabut dan pura-pura nggak melihatnya. Bodo amat, males ngeladeninnya!
Toh, sejak tiga hari belakangan, Tomi malah sama sekali tak menghubunginya.
Sebenernya Winda kangen juga dengan Tomi. Sepi rasanya sendirian. Ingin sekali Winda mencubit lengannya dan mengganggu dia lagi dengan menggambari buku pelajarannya dengan gambar-gambar hati. Atau menulisi nama mereka berdua di sana sampai Tomi mencak-mencak kesal. Tapi dia hanya bisa memendam semua itu dalam hati. Tomi pasti lagi asik belajar di rumah, seperti biasa.
Pucuk dicinta ulam tiba.
Sebuah ketukan di pintu pagar membuyarkan semuanya. Berbarengan dengan hal itu, hujan tiba-tiba turun deras sekali. Cowok dalam lamunannya kini sudah ada di depan. Rambut dan kaos yang dikenakannya sebagian basah kuyup, keburu tersiram air hujan karena menunggu Winda yang lama banget buka pintunya karena mencari payung dulu.
“Halo, Win.”
“Halo juga.”
“Apa kabar?”
“Baik….”
“Lama ya kita nggak ngobrol….”
“Iya…”
“Aku nggak suka dengan keadaan begini. Rasanya tersiksa sekali,” kata Tomi pelan.
Winda jadi tertegun mendengarnya. Cowok itu tampak kuyu.
“Apa kamu sudah bosan pacaran dengan aku?”
Winda menggeleng perlahan.
“Aku… aku nggak sanggup rasanya bermusuhan dengan kamu.” Tangan Tomi terulur kaku hendak mengusap rambut Winda.
Deg! Seperti bermimpi rasanya. Betapa Winda sangat merindukan belaian hangat seperti ini. Ada denting lembut yang seakan menggema. Entah kenapa, kekecewaannya yang menggunung tiba-tiba jadi menguap.
“Mungkin aku nggak romantis seperti dalam angan-anganmu, Win. Aku cuma berpendapat, pacaran kan nggak cuma dimaknai dengan hal-hal seperti beli bunga, candlelight dinner, atau clubbing bareng. Kita bisa mengisi kebersamaan kita dalam pacaran dengan hal-hal yang berguna. Tolong jangan meragukanku. Aku sayang kamu, Win. Sayang banget…. Tentu aku berharap cinta kita bisa tulus dan awet,” katanya lagi.
Winda menatap mata Tomi. Tampak kesungguhan yang sangat di sana. Ah, cowok itu sebetulnya baik! Dia juga nggak centil, nggak tebar pesona melulu ke cewek lain. Bukankah seharusnya Winda bersyukur?
“Kamu mau kan memulainya lagi bersamaku? Aku janji mau ngebagi waktu aku lebih dengan kamu.”
Winda tak menjawab. Juga tak menolak ketika Tomi meraih jemarinya dan dibawa ke dalam genggamannya. Ah, apalah artinya bunga yang bisa layu termakan waktu. Kedatangan cowok itu, dan ketulusan hatinya jauh lebih berarti. Ada suatu keyakinan menyapa Winda bahwa garis cintanya mulai terluruskan kini.
“Aku juga sayang kamu, Tom.” Air mata Winda merebak. Dipeluknya cowok terkasih itu erat. Di luar sana, hujan telah reda. Ada pelangi yang besaaar banget nemenin mereka berdua, seakan menjadi saksi bisu pertautan hati Winda dan Tomi. ©
Masih Ada Hari Esok
By • Karen Angela

Butuh satu jam untuk mengenal seseorang, satu hari untuk jatuh cinta, namun untuk melupakannya bisa jadi butuh seumur hidup.
Pagi belum lagi beranjak siang, namun langit di atas kota Jakarta kelabu tua. Mendung menyelimutinya. Hujan turun rintik-rintik. Air yang jatuh dari atas langit bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir sepanjang jalan menuju selokan.
Hari ini adalah hari keempat belas Astri berada di rumah sakit. Setelah dioperasi pada hari pertama dan beristirahat total selama hampir dua minggu, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di kakinya sudah mengering. Semua barang-barang Astri juga sudah dimasukkan ke mobil.
Gadis itu mencoba berdiri meski dengan bantuan tongkat.
“Pagi, Dok!” sapanya begitu melihat dokter yang ikut membantu perawatannya sedang berbicara dengan seorang suster di pintu kamar.
Dokter muda itu memandangnya sejenak, lalu membalas sapaannya.
“Sudah mau pulang?”
“Ya, Dokter. Sekalian saya mau pamit.”
“Baiklah, Astri. Satu saja pesan saya, hidup harus berjalan terus. Kamu tetap kuat dan tabah ya? Selain berusaha menjaga kondisi badan, mulailah berlatih berjalan setahap demi setahap.”
Astri mengangguk. “Terima kasih atas bantuannya, Dokter.”
Lalu dibantu papa dan mamanya, gadis itu masuk ke dalam mobil. Semenit kemudian, mobil sedan yang membawanya telah melaju di jalan.
Astri beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Kevin, cowok yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Astri belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Kevin padanya. Kecelakaan mobil telah membawa cowok itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Astri terpuruk dalam kesendiriannya kini.
Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Astri sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhir dia bersama Kevin. Cowok itu mengajaknya dinner bareng seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.
“Jika rentang waktu setahun ada 365 hari, maka berapa kali matahari terbenam yang akan kita lewatkan hingga kita bertemu lagi?”
“Aku nggak tahu, Vin.” Astri menatap kosong. Dia bahkan belum menyentuh potongan steak -nya yang terhidang di meja.
“Suatu hari nanti, aku ingin kita bisa menikmati matahari terbit bersama-sama. Begitu terus setiap hari.” Kevin menggenggam jemari Astri lembut. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu.
Tapi nyatanya, apa yang terjadi sungguh ironis.
Astri masih ingat betul, dalam perjalanan pulang Kevin membanting setir mobilnya ke kanan guna menghindari tabrakan dengan mobil depan yang ngerem mendadak. Namun bukannya terhindar dari maut, tiba-tiba malah muncul mobil dari arah sebaliknya menabrak mereka.
Mobil Kevin yang ringsek berat menjadi saksi bisu betapa kecelakaan itu demikian parah dan tak menyisakan ampun. Saat keduanya tak sadarkan diri di rumah sakit, cowok itu duluan menghembuskan napas terakhirnya. Astri beruntung masih selamat. Dia hanya menderita patah kaki ringan dan beberapa luka gores.

***

Satu tahun lebih berlalu….
Tak mudah memang bagi Astri menjalani hari dengan trauma yang masih membekas. Tak seorang pun juga begitu ambil pusing dengan sikapnya yang tertutup dan cenderung pendiam. Ya, kecuali Andhika.
Kring! Begitu bel kampus berbunyi, Astri bergegas meninggalkan ruangan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang karena begitu banyak yang harus dikerjakannya di rumah siang ini.
“Astri, tunggu! Aku mau ngomong.”
Astri memperlambat langkahnya sambil menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak Dhika berlari-lari kecil ke arahnya. Sedikit terengah begitu berhasil menjejeri langkahnya.
“Aku nggak punya banyak waktu,” Astri lantas memotong seraya membalikkan tubuhnya.
“Please, aku cuma pengen nanya. Boleh nggak aku ke rumah kamu malam minggu ini?” imbuh Dhika sambil tersenyum kikuk.
“Kenapa? Beberapa jam aja nggak lihat aku bikin kangen, ya?” tatapan mata Astri melunak.
“Jadi boleh ya aku main ke rumahmu?”
“Siapa yang bilang boleh?” Astri mendelik. “Aku sibuk!”
“Sibuk? Emangnya mulai punya bisnis apaan?”
Astri tertawa kecil. Andhika yang baik selalu mengingatkannya pada Kevin. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulitnya yang putih serta senyum baby face-nya seolah menjelma pada diri Dhika. Hanya saja….
Astri menarik napas dalam-dalam. “Pokoknya nggak boleh, kecuali….”
“Kecuali apa?”
“Kecuali kamu bisa mempertemukan aku dengan Kevin,” tantang gadis itu.
Dhika terperangah. Permintaan itu terasa janggal. Gimana mungkin mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah nggak ada di dunia ini? Astri hanya mengada-ada.
Dan itu menjadi beban batinnya. Ternyata, menyadarkan seseorang yang terbelenggu cinta tak semudah yang dibayangkannya. Sayang dia keburu terbius oleh gadis itu. Sejak perkenalan pertama beberapa tahun silam, sebelum Astri akhirnya menjadi milik Kevin. Kalaupun saat itu dia memutuskan untuk mundur, itu semata karena Dhika yakin Kevin dapat membahagiakan gadis yang sedikit manja itu.
Perkiraannya tidak meleset. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Sampai tiba-tiba kabar buruk itu diterima: Kevin meninggal akibat kecelakaan mobil.

***

Astri menggenggam sebuah boneka beruang kecil di tangannya. Hadiah dari Kevin di hari jadi mereka pacaran.
“Aku bakal ngasih kamu boneka beruang ini di setiap tahun hari jadi kita. Sampe meja belajar kamu penuh! Sebab aku ingin kita selalu bersama,” kata Kevin suatu saat.
Astri mengenang hal itu dengan pahit. Hari ini seharusnya hari jadi mereka yang kedua, kalo Kevin masih hidup tentunya. Betapa Astri kangen dengan senyum, tawa, perhatian, bahkan omelan cowok itu saat dirinya lupa sarapan pagi. Sudah setahun pula Astri terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Kevin. Andai saat itu dia nggak mengganggu konsentrasi Kevin menyetir dengan mengajaknya ngobrol. Andai dinner itu tak pernah ada. Ah, andai….
Sebuah ketukan di pintu membangunkan lamunannya.
“Astri, ada temanmu yang datang. Kalo nggak salah namanya Dhika.”
“Eh… iya, Ma.” Astri buru-buru menyusut airmatanya.
Ngapain lagi Dhika kemari? Bukannya dia sudah bilang nggak usah mampir?
Di ruang tamu, Astri melihat cowok itu sedang duduk terpekur menatap lantai. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat dirinya.
“Hai!” sapa Dhika spontan. Astri Cuma bisa diam mematung di ujung meja. Dhika kelihatan begitu lembut malam ini, dan dia begitu tampan dengan kemeja putihnya itu.
“Malam minggu nggak keluar?” tanya cowok itu lagi.
Astri menggeleng. “Mana ada yang pengen ngajak cewek kuper lagi berantakan kayak aku kencan di malam Minggu.”
“Kamu serius? Aku mau!”
Astri tersenyum simpul. Cowok di hadapannya ini, tak putus-putusnya menghibur dirinya sejak kepergian Kevin. Astri tidak buta. Dia sadar perhatian Dhika selama ini.
“Tapi kamu belum mengabulkan permintaanku. Kamu belum mempertemukan aku dengan Kevin,” Astri mengingatkan.
“Astri… kamu tahu sendiri kan hal itu nggak mungkin,” sahut Dhika.
“Terserah.”
“Sampe kapan kamu mau terus mengurung diri, As? Aku yakin Kevin juga nggak suka ngeliat kamu kayak gini,” suara Dhika terdengar lembut tapi tegas.
“Kalo nggak suka, kamu boleh kok nggak peduli,” jawab Astri dingin.
“Aku peduli, karena aku sayang sama kamu!” jawab Dhika gemas.
“Maafin aku, Dhika. Tapi Kevin tetap hidup di hatiku,” jawab Astri setengah terbata. Kevin, kamu di mana? Berilah aku suatu pertanda kalo kamu juga nggak pernah ngelupain aku, bisiknya.
“Jangan berburuk sangka dulu. Aku nggak pernah minta kamu ngelupain Kevin, As. Aku cuma pengen kamu membuka diri bagi orang-orang di sekitarmu. Kan kamu sendiri yang bilang, kita harus menghargai waktu yang ada bersama orang-orang yang kita sayangi. Dan aku menghargai waktu yang aku punya bersama kamu!”
Astri terpana mendengar ucapan Dhika. Ada rasa haru menyeruak di hatinya.
“Aku suka sama kamu sejak dulu, As. Sejak kita pertama kali kenalan. Aku pengen kamu kembali ceria kayak dulu lagi,” pinta Dhika sambil tersenyum manis.
“Thanks, Dhika. Tapi aku….”
Dhika mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya sejak tadi. Astaga! Sebuah boneka beruang kecil. Antara percaya dan tidak percaya, Astri menatap takjub saat tangan Dhika terulur padanya.
“Tadi sebelum ke sini, aku melihat boneka ini. Lalu aku berpikir untuk membelikannya untukmu karena setahuku kamu suka pernak-pernik beruang. Sebuah awal yang bagus bukan? Jadi di kamarmu nggak melulu koleksi barang dari Kevin.” Lagi-lagi senyum tulus mengembang di wajah cowok itu.
Astri menerimanya dengan hati berdebar.

***

Angin malam menerpa ketika Astri membuka jendela kamarnya. Poninya tersibak. Antara suka dan lara bergayut di hatinya. Astri memandang boneka beruang kecil pemberian Dhika di tangannya, lalu menatap ke atas, menembus kelamnya langit di malam hari.
Astri tersenyum tipis. Dipejamkannya mata. Alangkah terasa kehadiran Kevin di sisinya. Entah kenapa kedamaian tiba-tiba menyelimutinya.
“Kevin,” gumamnya lirih, “Aku nggak akan pernah melupakanmu meskipun kini sudah menerima uluran tangan Dhika untuk mengisi kekosongan hati ini, yang akan menemaniku melangkah di lembaran baru. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang sekarang.”
Angin kembali berdesir. Astri membiarkan jendelanya tetap terbuka.
Sementara dari atas sana, betapa seseorang yang berpakaian seputih kapas itu tersenyum dan tampak melambai hangat kepadanya dari atas sana. Kevin…. ©

When tomorrow starts without me,
And I’m not there to see,
I wish so much you wouldn’t cry,
The way you did today,
I know how much you love me,
As much as I love you

When tomorrow starts without me,
Please try to understand,
That my place was ready,
In heaven far above,
But don’t think we’re far apart,
For every time you think of me,
I’m right here, in your heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: